SEKOLAH DAN SEGALA ATURAN ANEHNYA
Peraturan sekolah telah menjadi bagian penting dari kehidupan siswa dan guru di seluruh dunia. Peraturan ini mencakup berbagai hal, mulai dari seragam sekolah hingga perilaku yang diharapkan dari siswa di dalam dan di luar kelas. Meskipun beberapa aturan mungkin tampak berlebihan atau kaku, tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan produktif bagi semua orang. Namun, tidak semua aturan sekolah selalu dipahami atau dihormati oleh siswa, dan sering kali mereka merasa tidak adil atau tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Sayangnya, aturan-aturan di sekolah di Indonesia sering kali hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri daripada kebutuhan siswa. Hal ini karena pendidikan di Indonesia seringkali dianggap sebagai sarana untuk mencari pekerjaan, dan bukan untuk mengembangkan potensi siswa secara penuh. Sebagai akibatnya, banyak siswa yang merasa bosan dan tidak termotivasi dalam pembelajaran, karena kurikulum yang terlalu fokus pada teori dan tidak memperhitungkan minat dan bakat siswa.
Menurut beberapa sumber, pendidikan dan aturan sekolah di Indonesia sering dikritik karena dianggap hanya dirancang untuk mempersiapkan siswa untuk industri dan tidak menekankan pentingnya pengembangan kreativitas dan pemikiran kritis. Beberapa aturan sekolah juga dianggap terlalu ketat dan membatasi kemampuan siswa untuk mengekspresikan diri mereka dengan bebas.
Aturan-aturan tersebut termasuk larangan memakai aksesoris selain jam tangan dengan hukuman teguran, poin, dan bahkan hukuman fisik. Selain itu, siswa juga harus selalu menjaga rapihnya seragam sekolah dan dilarang berkeliaran di luar kelas saat jam pelajaran. Aturan yang paling aneh adalah larangan membantah guru dengan hukuman yang tidak dijelaskan.
Aturan yang dibuat adalah untuk membiasakan diri di dunia kerja
Hal sepele, yaitu seragam. itu dirancang untuk tentang membiasakan siswa agar taat peraturan dan selalu disiplin, adalah manfaat yang akan terus dipakai saat di dunia kerja. itu merupakan hal yang baik bukan. akan tetapi di satu sisi, pembiasaan tersebut membuat kita berhenti berkreasi dan mengekpresikan jati diri.
salah seorang siswa pernah bertanya,
"KENAPA GELANG SAYA DISITA!!" dengan nada protes.
lalu salah seolarang temannya berkata dengan sarkas, "EH, GA BOLEH MEMBANTAH GURU"
Hal tersebut telah menyadarkan ku, bahwa hari itu aku telah melakukan pembunuhan karakter siswa demi melakukan kewajiban menegakkan aturan sekolah. aku yang tengah tertegun dengan apa yang aku lakukan, hannya bisa mengembalikan gelang tersebut dan berkata, "boleh dipakai, tapi jangan di sekolah."
Lalu aku tersadar kembali, bahwa aku tengah membuat sekolah sebagai tempat menyebalkan dan banyak peraturan yang memenjarakan kebebasan mereka. dalam satu momen aku telah melakukan kesalahan. dan di moment itu pula, aku menjadi Guru yang baik secara sistem karena menegakkan peraturan.
Dilema bukan, aku rasa itulah yang selau dialami oleh guru di Indonesia.



Komentar
Posting Komentar